Home / ANALISIS TERHADAP DIMENSI-DIMENSI SOCIAL CAPITAL YANG MEMENGARUHI KINERJA PEGAWAI (Studi Pada BPJS Kesehatan Cabang Pasuruan

ANALISIS TERHADAP DIMENSI-DIMENSI SOCIAL CAPITAL YANG MEMENGARUHI KINERJA PEGAWAI (Studi Pada BPJS Kesehatan Cabang Pasuruan

MUHAMMAD TAHAJJUDI GHIFARY
Program Studi S2 Pengembangan SDM, Sekolah Pascasarjana UNAIR
Alamat korespondensi :
Email : ghifary.one@gmail.com
PENDAHULUAN
Sumber daya manusia menjadi begitu penting untuk para pemimpin bisnis karena secara nyata telah memperlihatkan keunggulan kompetitif berkelanjutan yang terwujud dalam bentuk human capital (Gilley et al., 2009:438). Seturut dengan itu, social capital muncul sebagai kepanjangan dari human capital. Social capital dianggap memiliki potensi untuk menerjemahkan ke dalam produktivitas kerja, khususnya yang mengacu pada hubungan sosial (Weaver dan Habibov, 2002). Tidak seperti modal yang lain, social capital melekat dalam struktur hubungan antar pribadi dan juga di antara anggota organisasi. Dapat diasumsikan bahwa tidak hanya individu, tetapi juga organisasi yang kompleks seperti unit pelayanan terkait kesehatan yang memiliki social capital (Ernstmann et al., 2009). Dijelaskan oleh Narayan dan Cassidy (2001) bahwa social capital merupakan tata aturan, norma, kewajiban, imbal-balik (resiprokal) dan kepercayaan yang terikat pada hubungan dan struktur sosial serta pengaturan kelembagaan dalam masyarakat yang memungkinkan para anggotanya dalam mencapai hasil sasaran individu maupun masyarakat. Mengacu pada UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), PT. Askes (Persero) yang sebelumnya mengelola jaminan kesehatan bagi pegawai negeri sipil dan pensiunan ditransformasikan menjadi BPJS Kesehatan sebagai penyelenggara program jaminan kesehatanbagi seluruh rakyat Indonesia. Mencermati beban keorganisasian pada masa-masa awal operasionalisasi BPJS Kesehatan, tidak hanya di tingkat pusat maupun regional, tetapi juga di tingkat cabang seperti Cabang Pasuruan, niscaya dibutuhkan upaya pengembangan sumber daya manusia. Selain human capital, peran social capital dalam kaitan ini juga dipandang sangat menentukan, termasuk social capital individu yang didefinisikan sebagai hubungan dalam hal struktur maupun isi di antara aktor-aktor pada suatu sistem (Adler dan Kwon, 2002). Adapun kinerja dapat dimaknai sebagai pencapaian tugas tertentu yang terukur berdasarkan standar yang telah ditetapkan atau diidentifikasi keakurasian,
kelengkapan, pembiayaan dan kecepatannya (Sultana et al., 2012).Kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang atau kelompok dalam organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab, dalam upaya untuk mencapai tujuan Analisis Terhadap Dimensi Social Capital Yang Mempengaruhi Kinerja Pegawai organisasi secara legal, tidak melanggar hukum, dan sesuai dengan moral dan etika. (Syauta el al., 2012). Penelitian ini mengacu pada pendekatan yang dinalar oleh Nahapiet dan Ghoshal (1998). Teori ini mengedepankan keterpengaruhan dimensi-dimensi social capital (structural, relational dan cognitive) terhadap kinerja individu. Dimensi structural melibatkan interaksi sosial yang digunakan oleh aktor untuk mendapatkan akses, informasi, ataupun sumber daya. Dimensi relational mencakup aspek yang muncul dari terjadinya interaksi, termasuk kepercayaan dan loyalitas. Dimensi cognitive meliputi atribut seperti norma-norma bersama, kode tindakan, dan konvergensi dari pandangan (Abbasi et al., 2011). Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali keterpengaruhan dimensisocial capitalterhadap kinerja pegawai pada BPJS Kesehatan Cabang Pasuruan. Secara khusus maksud penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh positif antara dimensi structural, relational dan cognitive pada social capital dengan kinerja pegawai. Di samping itu juga untuk mengkaji perbedaan pengaruh di antara dimensi-dimensi social capital dimaksud terhadap kinerja pegawai manakala diperlakukan dalam bentuk unidimensi dan multidimensi.